Kamis, 24 Juli 2008

Harga Elpiji Naik, Biogas Jadi Solusi

RAKYAT Indonesia tampaknya harus semakin mengencangkan ikat pinggang dan
lebih menghemat lagi. Setelah menderita akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), masyarakat kini menjerit karena harga elpiji juga naik. Pemerintah resmi menaikkan harga elpiji 29-30 persen awal Juli 2008 lalu. Harga elpiji 12 kg naik dari Rp 51.000,00 menjadi Rp 63.000,00.


Persediaan elpiji di berbagai daerah semakin sedikit, menjelang kenaikan harga. Bahkan, kelangkaan elpiji masih berlangsung setelah harganya resmi dinaikkan. Sejumlah agen elpiji di Kota Cirebon, mengaku belum mendapat pasokan dari PT Pertamina dan belum mendapat pemberitahuan kenaikan harga secara resmi ("PR", 2/7).
Masyarakat tidak mempunyai pilihan selain, melakukan penghematan dan mencari energi alternatif. Kini, elpiji tidak bisa lagi disubstitusi dengan minyak tanah, begitu pula sebaliknya, Kedua jenis energi itu sudah melambung harganya. Oleh karena itu, energi alternatif menjadi pilihan utama dalam mengatasi naiknya harga BBM dan elpiji.
Kebutuhan energi dunia akan terus meningkat, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Harga minyak di pasaran dunia terus meningkat dari hari ke hari, bahkan telah mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Masyarakat dunia kini berlomba-lomba untuk memproduksi energi alternatif yang berasal dari alam.
Indonesia seolah tidak ingin tertinggal dalam mencari sumber energi alternatif. Beberapa tahun lalu, pohon jarak dijadikan harapan baru untuk memproduksi biofuel. Baru-baru ini, sejumlah peneliti juga memprakarsai blue energy, tetapi masih menuai banyak kontroversi. Manusia sebenarnya telah memiliki teknologi pembuatan gas dari alam, yang telah tercipta sejak ratusan tahun lalu. Teknologi itu dikenal dengan biogas.
Biogas tidak bisa dipandang sebelah mata. Teknologi ini terbukti dapat menciptakan energi dari limbah dengan biaya murah. Teknologi pembuatan biogas tidak akan menimbulkan kontroversi. Beberapa negara di Amerika Selatan, telah memproduksi biogas dalam jumlah banyak. Sudah saatnya Indonesia melakukan hal serupa, sebagai bentuk pembangunan kemandirian energi.

Teknologi biogas

Bahan utama dalam pembuatan biogas berasal dari kotoran sapi sebagai limbah peternakan. Biogas sangat prospektif untuk dikembangkan di Indonesia, karena di negara ini terdapat sekitar 11 juta ekor sapi yang dapat dimanfaatkan kotorannya menjadi biogas.
Teknologi biogas sebenarnya sudah sejak lama dikenal dan digunakan masyarakat dunia. Orang-orang Eropa dan Amerika, telah mengenal biogas sejak 200 tahun yang lalu. Sebelum energi listrik ditemukan, warga Kota London menggunakan biogas untuk menyalakan api dalam lampu-lampu jalan (street lamps) yang pada saat itu dikenal dengan nama gaslights.
Biogas merupakan campuran (mixture) dari beberapa jenis gas yang terdiri atas karbondioksida (carbon dioxide) dan metan (methane). Biogas dikenal pula dengan nama biometan (biomethane). Fungsi yang dimiliki Biogas sama seperti gas, yang digunakan sebagai bahan bakar (Liquid Petreoleum Gas). Biogas dapat dibakar untuk mendapatkan api atau panas melalui pembakaran bersih (clean combustion).
Metan sebagai penyusun biogas dapat diperoleh dari berbagai macam bahan organik, yang berasal dari tanaman dan hewan. Metan tersebut merupakan hasil akhir dari proses dekomposisi bahan-bahan organik oleh mikroorganisme. Proses dekomposisi berlangsung dalam keadaan hampa udara (anaerobic). Gas metan yang bergabung dengan karbondioksida akan membentuk biogas sebagai energi alternatif.
Hewan-hewan pemakan tumbuhan merupakan hewan penghasil biogas dalam jumlah banyak. Biogas tersebut dapat diperoleh melalui pengolahan terhadap kotoran (manure) yang dihasilkan. Kotoran sapi perah (dairy) merupakan bahan yang cocok untuk membuat biogas, karena ternak tersebut merupakan pemakan berbagai jenis hijauan.
Keadaan itu menyebabkan saluran pencernaannya terisi oleh mikroorganisme, yang dapat mencerna selulosa (serat tanaman) dan mikroorganisme penghasil metan (methane-producing microorganism).
Keberadaan biogas dapat menggantikan penggunaan minyak tanah dan gas elpiji untuk menghasilkan api. Biogas merupakan energi yang dapat diperbarui (renewable energy). Proses pembuatan biogas hanya membutuhkan keberadaan ternak dan makanannya. Hijauan makanan ternak dapat tumbuh dengan waktu yang singkat dalam siklus tertentu. Dengan demikian, biogas dapat diproduksi setiap saat dan sesuai kebutuhan, selama bahan yang dibutuhkan masih tersedia.
Hal ini berbeda dengan gas alam yang tidak dapat diperbarui. Gas tersebut dibentuk dari hewan dan tumbuhan, yang telah terfosilisasi (fosili-zed) dalam tanah. Proses pembentukannya memakan waktu jutaan tahun. Fosil-fosil pembentuk gas alam tidak dapat "tumbuh" dan diproduksi setiap waktu.
Teknologi biogas dapat menciptakan siklus energi yang terus berputar. Siklus tersebut dimulai dari tumbuhnya hijauan dan rumput sebagai makanan ternak. Setelah melalui proses pencernaan dalam tubuh ternak, makanan tersebut akan dikeluarkan sebagai kotoran ("manure). Biogas berupa metan dapat dihasilkan dari kotoran ternak melalui proses dekomposisi.
Gas yang diperoleh dapat dibakar dan menghasilkan api untuk memasak. Pembakaran metan tersebut akan menghasilkan karbondioksida ke dalam atmosfer. Akhirnya, hijauan makanan ternak memanfaatkan karbondioksida dari atmosfir untuk melakukan respirasi. Siklus ini terus berputar tanpa mengganggu kese- imbangan lingkungan.
Biogas tidak hanya merupakan teknologi dalam memperoleh bioenergi, namun biogas pun mampu menjalankan fungsi dalam menciptakan lingkungan yang bersih. Limbah peternakan dapat diubah menjadi energi melalui aplikasi teknologi biogas. Hal itu merupakan bentuk proses produksi pertanian tanpa limbah (zero-waste management).

Aplikasi sederhana

Dalam skala kecil, produksi biogas dapat dimulai dengan pembuatan reaktor mini, sebagai tempat terjadinya proses dekomposisi dan alat untuk mengeluarkan gas. Reaktor mini ini berupa tempat penyimpanan kotoran ternak yang kedap udara dan dilengkapi pipa kecil bercabang dua, sebagai tempat ke luarnya gas. Salah satu percabangan pipa dihubungkan dengan balon plastik, yang berfungsi untuk menyedot gas metan dari dalam reaktor mini dan meniupkannya ke percabangan lain yang terdapat pembakar bunsen (Bunsen Burner), yaitu satu alat kecil yang memiliki fungsi menyerupai kompor gas. Pipa harus dilengkapi kran atau alat lain, yang berfungsi untuk menutup dan membuka aliran gas yang melewati pipa tersebut.
Setelah semua peralatan dirakit menjadi satu reaktor mini, perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap berbagai kebocoran. Jika dalam reaktor mini ini terdapat kebocoran, maka gas metan yang telah tercipta akan keluar dari reaktor. Kebocoran gas metan dapat membahayakan manusia, karena sifat biogas yang sangat cepat menyala, tidak berbau, dan tidak berwarna. Oleh karena itu, reaktor mini harus berada jauh dari sumber api.
Kotoran ternak dan air merupakan bahan yang wajib tersedia. Kotoran ternak dapat berasal dari sapi, kerbau, kambing, dan ternak pemakan tumbuhan lainnya. Air yang digunakan harus bebas dari kandungan bahan kimia dan logam berat. Kotoran ternak dan air dapat dimasukkan ke dalam reaktor mini. Kotoran ternak yang telah berada dalam reaktor, harus segera ditutup rapat untuk menciptakan kondisi anaerob. Proses produksi biogas yang sempurna dapat memakan waktu selama sebulan, dengan jumlah gas metan yang memadai.
Setelah proses pembentukan biogas selesai, maka gas metan dalam reaktor dapat segera dikeluarkan. Pertama-tama, kran dalam pipa yang terletak antara reaktor mini dan pembakar Bunsen dibuka secara perlahan. Balon plastik yang terdapat di ujung percabangan pipa lainnya, dikembangkan agar gas metan dalam reaktor dapat masuk ke dalam balon tersebut.
Balon berisi gas metan ini kemudian ditekan, untuk mendorong gas metan menu- ju pembakar Bunsen yang diberikan sumber api kecil dari lilin atau korek api. Jika gas metan yang keluar dari pembakar Bunsen ini dapat terbakar menjadi api, maka proses pembentukan biogas telah berjalan sempurna dan reaktor mini bekerja dengan baik.
Gas metan yang dihasilkan dalam proses pembuatan biogas memberikan peluang terhadap teknologi biogas untuk dikembangkan lebih lanjut. Biogas telah terbukti sebagai teknologi produksi bioenergi yang murah dan mudah untuk dibuat. Satu keluarga di Vietnam tidak lagi menggunakan minyak tanah untuk memasak, mereka mulai menggunakan biogas sebagai sumber energi yang diperoleh melalui kotoran kerbau yang ada di belakang rumahnya. Hal itu didukung pemerintah setempat, yang menyediakan penyuluhan dan penyediaan sarana bagi mereka. Jika di Vietnam bisa, mengapa di Indonesia tidak?
(M. Ikhsan Shiddieqy, S.Pt.)***

Tidak ada komentar: