Kamis, 24 Juli 2008



Google Ocean, Peta Samudra Tiga Dimensi

__________________________________________________________________

| Setelah sukses dengan Google Earth dan Google Sky, Google kini |
| tengah berancang-ancang memetakan dan mengeksplorasi kedalaman |
| laman samudra. Sebelumnya, Google Map juga sudah mempunyai |
| peta bangkai kapal, peta kabel bawah lout, peta suhu laut. |
| Namun rupanya semua itu tak cukup, karena masih banyak hal di |
| dasar laut yang belum tereksplorasi. | ___________________________________________________________________

Para netter (pengguna internet) pasti sudah tak asing lagi dengan program Google Earth, satu layanan dari Google yang dirancang secara internet base. Dengan Google Earth, netter seolah menjadi seekor elang yang terbang bebas di udara menjelajah dari satu tempat ke tempat lain di seluruh permukaan planet Bumi. Jika ingin lehih jelas melihat satu lokasi, dengan zooming, sang elang pun bisa menukik turun dari ketinggian dan mendekati lokasi. Pendek kata, Google Earth menjadikan seolah tak ada satu tempat pun di muka planet Bumi yang tersembunyi.
Bahkan, dengan satelit baru bernama WorldView I, foto-foto permukaan Bumi yang ditampilkan Google Earth bakal lebih tajam karena menggunakan resolusi lebih tinggi. Peluncuran satelit WorldView I itu merupakan hasil kerja sama antara Google dan Digital Globe.
Bersama satelit sebelumnya, Quickbird, keduanya akan menyediakan resolusi setengah meter dan mengumpulkan foto seluas 600 ribu kilometer persegi setiap hari. Koleksi sebanyak itu sebelumnya hanya dapat dikumpulkan lebih dari seminggu. Selain itu, objek di permukaan Bumi akan dapat disorot hingga pembesaran sampai ketinggian tiga meter hingga 7,5 meter. Bahkan dengan titik referensi di permukaan Bumi pembesarannya dapat ditingkatkan hingga dua meter.
Peluncuran satelit WorldView I merupakan tahap pertama dari rangkaian pelun- curan satelit lainnya untuk memperkuat kemampuan mengindera permukaan Bumi, Satelit Quickbird yang diperkirakan habis masa edarnya dua atau tiga tahun lagi akan segera digantikan satelit WorldView II. Saat satelit ketiga ini diluncurkan, Digital Globe akan mempu mengumpulkan foto lebih dari 1 juta kilometer persegi setiap hari dengan resolusi tinggi. Pengembangan satelit Digital Globe didukung dana 500 juta dolar AS dari Badan Intelijen Geospasial Nasional Pentagon. Namun, citra satelit yang dihasilkan bebas dijualbelikan secara komersial sepanjang tak lebih dari resolusi setengah meter.

Tiga dimensi

Tampaknya, sukses yang dicapai lewat Google Earth, ditambah Google Sky dan Google Map, tak menjadikan Google berpuas diri. Setelah darat dan udara (ruang angkasa), Google kini tengah membidik dasar lautan. Desember tahun lalu Google telah membentuk kelompok konsultan yang terdiri dari pakar kelautan dan mengundang para peneliti dari berbagai institusi di seluruh dunia ke Mountain View, California, AS, yang jadi markas Google. Mereka mendiskusikan rencana pembuatan peta laut tiga dimensi (3D).
Pihak Google sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai rencana tersebut. Tapi, menurut beberapa sumber terpercaya, upaya mengumpulkan para pakar kelautan itu memang terkait dengan rencana Google membuat program baru: memetakan dasar lautan, seperti halnya Google Earth. Belum ada nama resmi mengenai tool baru tersebut. Namun, untuk sementara dan lebih memudahkan, na- manya Google Ocean. Tentu saja, nama ini bisa saja berubah.
Beberapa pakar berharap, Google Ocean bisa memainkan fungsi seperti aplikasi pemetaan tiga dimensi yang sudah dimiliki Google. Masyarakat bisa melihat topografi bawah laut atau yang disebut dengan batimetri, mencari titik atau lokasi menarik dan atraktif, dan menavigasi melalui lingkungan digital lewat zooming dan paning.
"Kami berharap suatu hasil dari Google Ocean bisa memberikan pemahaman be- tapa banyaknya hal-hal yang masih perlu dieksplorasi," kata Stephen P. Miller, Kepala Pusat Data Geologi the Scripps Institution of Oceanography.
Menurut para peneliti kelautan, alat tersebut akan sangat bermanfaat. "Tidak ada model kedalaman atau permukaan yang benar-benar riil bagi lautan dalam Google Earth," kata Tim Haverland, seorang pengembang aplikasi geospasial pada the Fisheries Service of the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). "(Dengan Google Earth) kamu masih belum bisa mendapatkan kapal selam atau mengeksplorasi jurang lautan."
Menurut sebuah sumber, Google Ocean akan menampilkan suatu lapisan dasar yang memperlihatkan kedalaman dasar lautan dan akan menyediakan suatu kerangka kerja spasial bagi data tambahan dari pihak ketiga. Sumber tadi juga mengata- kan, Google berencana untuk mencoba mengisi dalam beberapa area peta dengan gambar-gambar beresolusi tinggi agar dihasilkan informasi yang lebih detail.
Data tambahan akan diperlihatkan sebagai lapisan overlaying yang melukiskan fenomena seperti pola cuaca, arus laut, suhu, kecelakaan kapal, coral reef (bukit karang), dan mekarnya alga laut. Pola ini bekerja seperti halnya National Park Service dan NASA menyediakan data tambahan bagi Google Earth dan Google Sky.
"Google pada dasarnya hanya menyediakan bidang tersebut dan kemudian setiap orang bisa masuk dan berkumpul di sana (untuk mengisi data tambahan)," kata Stephen P. Miller.
Ketika satelit mampu memberi gambaran seluruh bola bumi, sama seperti halnya gambaran luar angkasa, pada saat yang sama, informasi mengenai air dan kela-
utan justru masih sangat sedikit. Padahal, air mencakup 70 persen dari bumi. Hanya sedikit persentase dasar laut yang bisa dipetakan secara detail melalui sistem sonar (gelombang suara). "Dibutuhkan sekitar 100 tahun kapal untuk memetakan lautan dengan resolusi tinggi," kata Dave Sandwell, profesor geo- fisik pada the Seripps Institution of Oceanography.
Sandwell berspekulasi bahwa Google akan mendapatkan sebagian dari data dasar laut dari Peta Kedalaman Yang Diprediksi Scripp Institution of Oceanography, Peta-peta tersebut dihasilkan melalui gelombang bunyi sonar kapal dan satelit, sehingga informasi yang ditampilkan dari peta tersebut mengenai lautan sa- ngatlah dangkal.
Untuk mendapatkan kejelasan mengenai dasar laut, Sandwell dan beberapa orang mengatakan, Google kemungkinan akan menggunakan grids beresolusi tinggi dari insitusi oceanografi yang memperlihatkan kedalaman beberapa area terpilih dari laut. Data untuk grids tersebut, hanya akan meliputi bagian sangat kecil dari dasar laut, seperti yang digunakan kapal melalui multibeam sonar.
Salah satu sumber yang mungkin bagi data Google Ocean adalah merinci tiles dari multibeam dan prediksi topografi yang dikompilasi oleh Lamont-Doherty Earth Observatory (LDEO) dari Universitas Columbia, AS.Tile adalah gambar- gambar sunshaded beresolusi tinggi seperti model elevasi digital yang meliputi keseluruhan lautan yang mempertimbangkan interaktivitas yang sama ke Google Earth, di mana para netter bisa mendapatkan pemandangan yang berbeda melalui zooming in dan out dan melalui kecuraman permukaan planet.
Menurut William B.F. Ryan, profesor ilmu bumi dan lingkungan pada LDEO Universitas Columbia, aplikasi yang dibuat institusinya memungkinkan netter mendapatkan data dari database melalui internet tanpa hams tahu nama database atau bagaimana cara menyambungkannya. "Google bisa bertemu dengan database kami," kata Ryan.
Ryan mengingatkan bahwa Google ingin menaruh tiles pada server mereka karena pengguna Google yang jutaan orang akan membawa server di Universitas Columbia pada lutut mereka. Pada bagian paling atas dari peta kedalaman laut, dan sebagai tambahan terhadap area tiles beresolusi tinggi terpilih, ada kemungkinan terdapat variasi lapisan khusus yang berasal dari sumber berbeda. Contohnya, NOAA telah siap membuat informasi visual publik untuk Google Earth yang terhubung kepada hotspot laut seputar batu karang, debris laut teluk Meksiko, suhu permukaan dan gelombang tinggi di Great Lake, dan kecelakaan kapal.
Selain melibatkan para pakar kelautan, tak bisa diragukan lagi, program Google Ocean bakal mendapat sokongan dari "relawan" di seluruh dunia. Google Ocean tak diragukan memiliki para pencinta oceanografi amatir, pencinta kelautan, dan orang-orang yang terpesona oleh film "20.000 Leagues Under the Sea", projek yang berpotensi untuk mendorong lebih banyak kerja sama dan riset lanjutan.
"Kami berharap bahwa salah satu hasil dari Google Ocean akan memberi pengertian betapa masih banyak yang perlu kita eksplorasi," kata Miller. "Kita lebih tahu permukaan Mars hanya dengan survei beberapa minggu melalui radar pada orbit daripada kita tahu permukaan dasar lautan setelah mengeksplorasi- nya selama dua abad."***

T.AliTaufik
Alumni Teknik Elektro ITB

Tidak ada komentar: