Kamis, 24 Juli 2008

DAri pot bunga temukan lampu senter "Conrad Hubert"



Dari Pot Bunga Temukan Lampu Senter
Conrad Hubert (1856-01928)


SEMENJAK cahaya dari sinar lampu ditemukan oleh si cerdas serba bisa, Thomas Alva Edison, manusia di dunia tidak perlu takut lagi menghadapi gelap.Dalam perkembangannya lampu didesain beragam bentuk sesuai dengan fungsinya. Seperti yang dilakukan oleh imigran Rusia bernama Conrad Hubert. Pada tahun 1897, ia berhasil menciptakan lampu senter. Uniknya, temuan itu terinspirasi oleh sebuah pot yang dipasangi baterai.
Conrad Huber yang bernama asli Akiba Horowitz, lahir pada 15 April 1856, di Minsk, Russia. Ia lahir di tengah keprihatinan, keluarganya bukan termasuk golongan berada, sehingga ia tidak merasakan pendidikan di bangku sekolah. Semenjak kecil, ia sudah membantu orang tuanya mencari uang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Bah- kan ia pernah bekerja di toko cerutu, membuka warung,dan bahkan jadi tukang jam. Apapun dikerjakannya, tetapi semua itu tidak menghasilkan cukup uang.
Ketika kebijakan antisemit merebak di tanah kelahirannya, aktivitas bisnisnya tergangu. Pada 1891, Hubert memutuskan untuk beremigrasi ke di Amerika Serikat (AS). Sesampainya di negeri paman sam ia memutuskan untuk berganti nama pada usia 35 tahun. Saat itu ia benar-benar tidak punya uang. Hubert berusaha apa saja untuk menghidupi diri. Di tengah tekanan dan kegelisahan, ia kemudian tertarik pada industri yang berhubungan dengan kelistrikan. Maka ia pun kemudian mencoba menjual berbagai macam alat yang berhubungan dengan listrik dan baterai, misalnya kipas angin portabel, lampu saku, hingga produk unik seperti pot bunga yang bersinar. Maka, ia pun makin tertarik dengan produk-produk berenergi baterai.
Suatu ketika, di negeri yang dikenal sebagai negara adikuasa itu, Hubert berkenalan dengan Joshua Lionel Cowen, yang juga memiliki pengalaman bisnis di bidang tenaga listrik. Bahkan di lingkungan komunitas bisnis tenaga listrik, Joshua dikenal sebagai orang yang kreatif dalam hal menciptakan inovasi baru. Salah satunya, ia berhasil menciptakan pot bunga yang dipasang baterai sehingga bisa menghasilkan cahaya. Karena tidak punya pekerjaan lain, Hubert memutuskan untuk membantu Joshua menjual pot bunga bercahaya ini. Namun, Joshua tidak menyenangi bidang bisnisnya ini. la lebih tertarik untuk berusaha di bidang kereta listrik. Joshua kemudian menjual ide pot bercahaya kepada Hubert dengan harga yang murah.
Conrad Hubert yang memliki jiwa dalam bidang penemuan memanfaatkan kesempatan itu dengan memodifikasi pot yang memiliki cahaya dari tenaga baterai. Ia kemudian memutar otaknya untuk membuat lampu senter. Pada mulanya, lampu senter produksi Hubert dibuat secara sederhana dan alami, yaitu dengan menggunakan baterai, bohlam dan tabling kertas dari pot hasil buatan Joshua. Setelah dirancang sedemikian rupa, alat yang disebutnya sebagai "obor' lisrik" menjadi cikal bakal keberadaan lampu senter.
Untuk lebih menyempurnakan alat yang bisa menerangi dalam kegelapan ini, Hubert berkolaborasi dengan David Misell, seorang penemu handal, untuk menciptakan lampu sorot terang yang bisa dibawa ke mana-mana. Maka, terciptalah lampu senter yang pertama. Sebagian besar literatur menyebutkan, senter itu terbuat dari semacam kertas tebal yang digulung dan wadah fiber, serta lampu kecil yang dibungkus reflektor dari kuningan
Kemudian, daya kreatif Hubert mampu memperbanyak penemuan itu. Bahkan sebagai uji coba pertama, Hubert membagikan secara gratis karya briliannya ini kepada po- lisi di kota New York. Senter buatannya itu mendapat pengakuan dari para polisi di kota itu. Dari sinilah lampu senter makin dikenal orang dan kemudian dipatenkan oleh Hubert pada tahun 1903.
Temuan brilian Hubert ini menarik minat perusahaan besar untuk menjadi investor Perusahaan yang beruntung mendapatkan sahamnya yakni National Carbon Company Dari perusahaan ini, Hubert mendapatkan aliran dana segar senilai 200.000 dolar Amerika Serikat. Hubert pun bisa memproduksi ciptaannya secara massal, sekaligus membuat perusahaannya menjadi terkenal hingga saat ini, yaitu Eveready atau singkatan dari The American Ever Ready Company.
Pada tahun 1906, Hubert menjabat sebagai presiden direktur. Sejak saat itu pula merek dagang produk perusahaan itu menjadi Eveready. Berkat bisnis itu, Hubert pun menjadi orang kaya.
Conrad Hubert meninggal 14 maret 1928, saat berusia 72 tahun. Bahkan, sampai akhir hayatnya, Hubert masih menyumbangkan tiga perempat kekayaan yang dimilikinya. Berkat temuannya, lampu senter, ia mampu menciptakan revolusi dalam bidang penerangan.
(Fitriansyah, Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung)***