Selasa, 06 Januari 2009

Wewangian Membahayakan


WEWANGI atau parfum tampaknya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir seluruh barang kebutuhan sehari-hari tak lepas dari wangi-wangian, mulai dari kosmetik seperti minyak wangi, deodorant, cologne, penyegar udara, hingga sabun pencuci piring, sabun mandi, dan detergen.
Pengusir bau ini sebenarnya merupakan sarana komunikasi nonverbal manusia. Tak heran jika aroma yang digunakan pun biasanya disesuaikan dengan momen yang sedang berlangsung. Misalnya ada jenis wewangin untuk upacara pernikahan, keagamaan, dan kematian. Parfum pun kemudian menjadi sebuah gaya hidup.
Namun, siapa sangka di balik wewangian bearoma menyegarkan itu mengandung ancaman bagi jiwa manusia. Pasalnya, bahan yang digunakan merupakan sintetis. Apabila pemakaiannya sembarangan, bisa berbahaya bagi kesehatan si pemakai. Misalnya penggunaan pengharum ruangan dengan aroma bunga-bungaan dan buah-buahan. Contohnya aroma jeruk lemon fruity-fragrance bisa menyebabkan kanker, peradangan pada mata, dan kulit apabila dihirup secara kontinu.
Dr. Asep Kadarohman, M.Si., Ketua Koordinator Laboratorium Kimia FMIPA UPI mengatakan, selama pemakaian pewangi dalam batas kewajaran, bahaya keracunan tersebut dapat terhindari. "Bahan kimia itu tidak ada yang bahaya apabila digunakan sesuai dengan kadarnya," ungkap dia.
Berdasarkan beberapa riset yang telah dia lakukan diketahui parfum yang beredar di pasaran saat ini umumnya berbahan kimia sintetis. "Senyawa turunan dari bahan natural. Pewangi alami murni sangat jarang digunakan dalam industri. Kalaupun ada, harganya dipastikan mahal," jelas Asep.
"Parfum merupakan senyawa tunggal, terdiri atas senyawa utama dan filler atau pengisi. Filler inilah yang banyak terkandung dalam parfum dibandingkan senyawa utamanya. Pewangi badan misalnya, apabila kisaran harganya Rp 10.000,00, saya yakin banyak mengandung alkoholnya di banding dengan bahan utamanya," kata dia.
Alkohol, lanjut Asep, merupakan pelarut bahan-bahan kimia yang tidak mudah larut dalam air. Pewangi yang banyak mengandung alkohol tidak bisa bertahan lama karena alkohol mudah menguap. Apabila daya rekat pewangi ingin lebih tahan lama, lanjut Asep, pencampurnya harus minyak atsiri juga, seperti minyak nilam.
Untuk mengurangi bahaya bahan pewangi, Asep menyarankan agar konsumen menghindari parfum yang mengandung senyawa bercincin benzena karena bersifat karsinogenik (bisa menyebabkan kanker). Oleh karena itu, harus bernati-hati, lanjut dia. Begitu pula, tambah Asep, aldehid itu berbahaya karena mudah teroksidasi, tetapi dalam jumlah tertentu itu aman.
Pewangi yang aman, menurut Asep, pengisi atau fillernya berasal dari bahan alami seperti nilam. "Parfum yang bagus itu satuannya ppm. Apabila seoles saja kita memakainya, langsung wangi dan tahan lama," kata dia.
Selain itu, menurut Asep, pengguna sebaiknya jangan gonta-ganti parfum. "Nanti kulitnya jadi rusak karena ada senyawa di situ, ketika mencuci kurang bersih maka akan terjadi antara senyawa A dan B. Ada kemungkinan tubuh jadi media campuran senyawa bereaksi," jelas dia. Oleh karena itu, kata Asep, apabila hendak mengganti produk yang kontak langsung dengan kulit, harus yakin kondisi kulit dalam keadaan steril.
Asep menganjurkan secara praktis pada konsumen wewangian untuk membaca label pada produk yang akan dibeli untuk mengetahui kandungan kimia yang digunakan. "Apakah zat yang terkandung cukup aman dan sebaiknya jauhkan pemakaian produk yang mengandung zat kimia yang berbahaya pada anak-anak dan juga ikuti cara pemakaian," ungkap dia.
Sementara itu, dr. Asmaja D. Soedarwoto, Sp.K.K., dokter spesialias kulit dan kelamin yang juga Kepala Klinik Kecantikan Lili Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mengatakan, pemakai parfum pada kosmetik agar mewaspadai kandungan bahan kimia seperti Cinnamic aldehid, iso eugenol, hidroxidtronellal, dan musk ambrette. Jenis bahan kimia tersebut jelas bersentuhan langsung dengan permukaan kulit.
"Pemakaian yang berulang-ulang dapat menyebabkan kehitaman pada kulit pada bagian-bagian tertentu yang dioleskan," ungkap dia. Seperti dahi, pelipis, leher, dan dada, tambah dia.
Selain itu, musim di Indonesia kerap sinar matahari ada sepanjang tahun. Sering bahan-bahan kimia tersebut bersifat fotosensitif sehingga harus terlindungi dari kontak sinar matahari langsung. Apabila pemakaian pewangi tubuh, lanjut dia, lebih baik dipakai pada bagian yang tertutup pakaian atau nadi.
Asma mencontohkan bahan kimia dalam pewangi badan di pasaran mengandung bergamot oil karena pengaruh sinar matahari dapat menggelapkan kulit. "Misalnya dioles di tangan dan terkena matahari terus tanpa disadari mengusap leher, akhirnya leher pun akan mengalami penggelapan," kata dia.
Sebaiknya, lanjut Asma, apabila terjadi alergi pada kulit, pemakai segera menghentikan penggunaan. "Stop segala penggunaan kosmetik, setelah steril gunakan kosmetik yang mengandung hipoalergenik.
Hal senada dipaparkan Asma kepada pembeli agar jeli sebelum membeli produk kosmetik. "Kalaupun sudah mengetahui bahan-bahan yang terkandung dan si pengguna mengalami ketidakcocokan, hal itu dapat membantu dokter dalam mengetahui penyebab dan penanganannya," ujar dia. (Novianti Nurulliah)***

2 komentar:

jacker mengatakan...

Although there are differences in content, but I still want you to establish Links, I do not
fashion jewelry

kamusarea mengatakan...

thank for your coming....
be pleasure to coming back please
it is ok when u place link here :D

may i?