Selasa, 06 Januari 2009

Kursi politik



KITA sudah tak asing lagi dengan kursi, Hampir setiap hari kita menggunakannya untuk duduk dan melepas lelah. Definisi kursi menurut Prof. Dr. Yus Rusyana adalah alat untuk duduk. Kursi terbuat dari besi dan kayu. Ada yang mempunyai sandaran dan ada yang tidak. Bahkan, dalam satu penelitian design, kursi bisa dijadikan simbol budaya masyarakat tertentu.
Sedangkan Ayat Kursi merupakan ayat ke-255 dari Surah Al-Baqarah, surat kedua dalam Alquran. Ayat ini disebutkan dalam satu hadis yang diriwayatkan Ubay bin Ka'ab sebagai ayat paling agung dalam Alquran. Isinya tentang keesaan Tuhan serta kekuasaan Tuhan, yang mutlak atas segala sesuatu dan bahwa Ia tidak kesulitan sedikit pun dalam memeliharanya. Menurut tafsir Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu, kursi dalam Ayat Kursi diartikan tempat kedua kaki Allah dan tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan luasnya.
Dalam dunia politik, kursi diartikan sebagai kekuasaan. Para politisi di negara kita berebutan "kursi" hanya untuk duduk. Bila kita tengok, negara Indonesia, yang katanya menganut demokrasi yang di dalamnya menyebutkan kekuasaan tertinggi di tangan rakyat. Mestinya, disediakan jutaan kursi untuk diduduki seluruh rakyat Indonesia. Tapi, pastinya akan repot, sehingga disediakan beberapa saja kursi di Senayan sebagai kursi wakil rakyat.
Tapi, kadang wakil rakyat lupa jika kursi itu merupakan jelmaan dari jutaan kusi yang di dalamya terdapat pesan-pesan dari rakyat. Pemilu 2009 nanti, politisi pun berbondong-bondong ingin menduduki kursi- kursi tersebut. Sulit ditebak misi yang mereka bawa, akankah menerjemahkan pesannya ataukah ganti orang saja, tanpa peduli pesan yang terlihat di kursi semakin panjang.
Namun, para pemimpin dan politisi kita lebih suka menafsirkan kursi, sebagai kekuasaan yang mutlak atas segala sesuatu. Sampai-sampai mereka lupa jika sudah duduk, maka kedudukan mereka harus dipertanggung- jawabkan. Bahkan, ada beberapa yang harus mendekam di balik jeruji besi, karena melalaikan tanggung jawabnya atau salah menafsirkan pesan dalam kursi tersebut. Sudah saatnya, mengubah paradigma bahwa kekuasaan bukan untuk diperebutkan, tetapi sebentuk amanah yang harus dipertanggung jawabkan. (Wilujeng Kharisma)***

Tidak ada komentar: