Selasa, 06 Januari 2009

Mengenal Sejarah tempe Yuk


HAI sobat-sobat, apakah suka tempe? Ya, pasti banyak yang suka makan tempe tapi tidak mau mengakuinya. Kita lebih suka mengatakan kalau kita adalah penggemar makanan asing seperti pizza, burger, kebab, spaghetti dan lain sebagainya. Mudah-muaahan, setelah sobat-sobat membaca tulisan ini, sobat-sobat tidak akan malu lagi mengatakan, suka makan tempe.
Sobat-sobat pasti sudah mengenal tempe. Tempe adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan. Fermentasi tempe menggunakan kapang Rhizopus atau ragi tempe. Tempe Kaya akan serat, kalsium, vitamin B dan zat besi. Tempe berbeda dengan tahu. Tempe terasa agak masam.
Sobat-sobat, tahukah kamu.... kalau tempe juga ada sejarahnya, Lho.... Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Tapi makanan tradisional ini sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu.
Terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan setting Jawa abad ke-16, telah ditemukan kata tempe, misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kedhele tempe srundengan.
Menurut catatan sejarah yang ada, pada mulanya tempe diproduksi dari Kedelai hitam yang berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa yang dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah dan berkembang sebelum abad ke-16.
Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan, tempe diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memperoduksi makanan dari kedelai yang difermentasikan dengan menggunakan kapang Aspergillus. Kemudian, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia.
Tempe mulai dikenal oleh masyarakat Eropa melalui orang-orang Belanda. Pada 1895, Prinsen Geerlings, seorang ahli kimia dan mikrobiologi dari Belanda melakukan usaha yang pertama kali untuk mengidentif ikasi kapang tempe. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa mulai didirikan di Belanda oleh para imigran dari Indonesia.
Pada 1946, tempe mulai populer di Eropa. Pada 1984, sudah tercatat sebanyak 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di Amerika, dan delapan di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin dan Afrika, tempe sudah mulai dikenal di kalangan terbatas.
Pada 1940-an, dilakukan usaha untuk memperkenalkan tempe ke Zimbabwe sebagai sumber protein yang murah. Tapi usaha ini tidak berhasil karena masyarakat setempat tidak memiliki pengalaman mengonsumsi makanan hasil fermentasi kapang.
Indonesia adalah negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% kedelai di Indonesia dikonsumsi dalam bentuk tempe, 40% untuk tahu dan 10% dalam bentuk lain seperti tauco, kecap dan lain-lain.
Sobat-sobat, tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas Lho, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjdainya penyakit degeneratif seperti aterosklerosis, jantung koroner, diabetes mellitus, kanker dan lain-lain.
Selain itu, tempe juga mengandung antibakteri penyebab diare, penurunkan kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi dan lain-lain. Tempe mengandung banyak komposisi gizi, baik kadar protein, lemak, vitamin B12 maupun karbohidratnya.
Pada umumnya vitamin B12 terdapat pada makanan hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran,buan- buahan dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati.
Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.
Nah sobat-sobat, mengingat banyak sekali manfaatnya makan tempe, jadi untuk apa kita malu-malu mengaKui, kalau kita suka makan tempe? Apalagi tempe adalah makanan asli bangsa kita.(Friendy Dhimas Pantodja, kelas II SON Krida Winaya 2, Jln. Gumuruh Blk No. 37 Bandung 40275)***
il

1 komentar:

Intan mengatakan...

thx infonya